Jumat, 09 Desember 2011

Sinopsis Novel "Surat Kecil Untuk Tuhan"

BAB 1 : Istana Dalam Dunia Kecilku
Gita Sesa Wanda Cantika yang biasa dipanggil Keke. Aku mempunyai dua kakak laki-laki dan ayah. Sekarang aku sudah berpisah dengan ibun akibat perceraian ayah dan ibun. Meskipun ayah dan ibunku sudah bercerai,tetapi hubungan mereka masih berjalan dengan baik. Sempat aku dan kedua kakakku tidak menginginkan sekolah kembali tetapi ayah terus membujuk kami dan akhitnya pun kami ingin kembali sekolah, tetapi kesekolah yang baru. Disekolah yang barunya aku mempunyai sahabat yang begitu baik padanku, tetapi disekolah barunya ada satu geng lain yaitu Angel dan gengnya aku dengan geng angle selalu berselisih tapi diantara mereka tidak ada rasa dendam.Keesokan harinya disekolah mengadakan LKDS dan di ldks tersebut kami ikut dan gengnya angle juga ikut, tetapi akhirnya gengnya angle mendapat peringkat A  sedangkan geng aku mendapat peringkat B. Dari situlah kami bisa mengambil kesimpulan bahwa kami harus lebih kompak lagi,
BAB 2 : Air Mata Itu Mulai Ada
Pagi-pagi Bibi mencari obat tetes mata buat Kak Kiki ternyata Kak Kiki terkena sakit mata. Keesokannya harinya sakit matanya Kak Kiki sudah mereda, tetapi ketika aku bangun merasa ada yang aneh dengan mata ternyata aku terkena sakit mata. Jika pulang sekolah keadaanya masih sama maka aku akan dibawa ke dokter, tetapi kedokternya diundur setelah pertandingan volley. Ketika tanding Volly Maya bilang ke akue bahwa hidungku mimisan, lalu aku langsung kekamar mandi, dan langsung ke UKS karena kepalaku juga pusing. Dan ayah pun langsung datang menjemputku dan langsung membawaku kedokter. Ternyata kata dokter hanya menyangka aku terkena sinus tetapi ketika sampai 5 hari tidak ada perubahan aku harap dibawa ke Prof. Lukman. Setelah 5 hari tidak sembuh aku pun akhirnya dibawa ke Prof.Lukman. Seteloah diperiksa ternyata aku terkena penyakit Kanker Jaringan Lunak, tetapi aku belum mengetahuinya dan ayah pun masih menyembunyikannya dari aku.
BAB 3 : Mama, Wajah Kakak Itu Kenapa ?
Kanker itu terus menyebar dan akhirnya membuat aku lebih sulit bernafas dan mukaku mulai memerah dan kanker itu pun menarik kulit mataku, sehingga aku sulit untuk melihat.Ketika sampai disekolah,aku langsung lari kekelas karena malu dengan mukaku yang membengkak. Ketika istirahat karena aku bosen dikelas aku meminta pada sahabatku untuk membuat Pak Iyus mengalihkan perhatiannya padaku. Ketika sampai dikantin, aku melihat anak kecil yang sangat lucu dan aku menyapanya, tetapi ketika aku menyapanya dia langsung lari keIbunya dan berkata “Mama, wajah kakak itu kenapa?”. Aku pun hanya terdiam,pura-pura tidak mendengar pembicaraan merela, lalu ibu itu bertanya “Muka kamu kenapa nak?, apa jangan-jangan kamu terkena tumor?”. Setelah mendengar itu aku langsung pamit pada ibu itu dan langsung kembali kekelas. Sampai rumah kata tumor itu selalu menjadi pikiranku “Apakah aku terkena tumor?” itulah yang selalu aku tanya. Keesokan harinya aku diberi obat-obat herbal yang disuruh dimakan oleh ayah, tetapi aku tidak menginginkannya karena rasanya yang pahit dan amis. Lima hari berlalu, tetapi aku merasa penyakit aku ini menjadi lebih parah bukan membaik, aku hanya menangis dan bertanya dalam hatiku “Apa yang terjadi denganku?”. Keesokan harinya aku dibawa ke sebuah pengobatan tradisional diBanten, ketika sampai disana, ternyata Pak Haji tersebut tidak bisa mengobatkanku dan secara lantang ia mengatakan “Ini bukan tumor tapi kanker?”. Setelah mendengan itu aku langsung menangis sampai rumah pun aku mengurung diriku dikamar. Setelah dua hari berlalu Andi menghampiriku dan akhirnya pun aku ingin makan dan minum obat kembali.
BAB 4 : Malaikat itu, Apakah Kau Tuhan ?
Setelah mencari kesana sini akhirnya pun ayah menemukan Prof.Mukhlis yang sudah ahli dalam bidang kanker, setelah berbicang-vincang tentang penyakitku dan keputusan terakhir selain operasi adalah aku menjalankan kemoterapi selama 6 kali. Keesokan harinya aku mengikuti

kemoterapi yang pertama dan setelah kemoterapi aku kaget karena semua rambut sudah rontok dan juga aku merasakan mual yang sangat sekali. Empat haripun berlalu proses kemoterapi itu mulai terlihat hasilnya meskipun tidak terlalu memuaskan. Sewaktu melakukan kemoterapi yang keempat tubuhku terasa seperti sudah menolah obat obat keras tersebut dan akhirnya aku mengalami koma selama dua hari, setelah dua hari aku terbangun dan bingung mengapa semua orang disekelilingku menangis. Setelah itu keadaan ku membaik dan kami semua beramai-ramai membeli rambut palsu dan kacamata di WTC ternama di Jakarta.Dan ayah pun membelikan aku sebuah kucing angora yang sangat lucu dan aku memberi namanya Moni. Setelah itu keesokan harinya aku melakukan operasi kecil (bioksi) untuk mengangkat sedikit contoh kulitku dengan pemeriksaan laboratorium, dan setelah tes akhirnya keluar. Aku sungguh dinyatakan telah sembuh dan bebas dari kanker.
BAB 5 : Hari Indah Itu Telah Datang
Hari yang indah dan harapan yang kunanti telah datang, kanker itu sudah pergi. Sekarang aku ingin membalas segala rasa sedih dengan keceriaan. Aku kembali kesekolah,teman-temanku menyambutku dengan gembira. Pulang sekolah kami pun meluncur ke mall. Keesokan harinya, ujian pun tiba selama tiga hari. Saat pembagian rapot meskipun aku tidak masuk sepuluh besar, aku masih bersyukur karena aku naik kelas. Sebelum liburan tiba, diadakan pertandingan volley antarkelas, kelas kami terbagi menjadi 2 kelompok yaitu, kelompok angel dan kelompokku. Akhirnya kelompok angellah yang mewakili kelas kami. Saat liburan tiba ayah mengajak aku dan sahabat-sahabatku beserta Andi liburan ke Villaku di Kota Bunga, Puncak.
BAB 6 : Pesta Telah Usai, Kanker Itu Kembali
Aku terbangun dari mimpi burukku. Dalam mimpiku kanker itu kembali lagi. Pulang sekolah ini aku dan Andi akan menonton film Dealova di Bioskop. Di dalam film itu menceritakan sama apa

yang aku alami dulu. Keesokan harinya aku merasa aneh pada tubuhku, hidungku sering mimisan seperti dulu lagi. Setelah di chek ke dokter ternyata kanker itu muncul lagi tetapi ayah menyembunyikan padaku. Dan esok harinya akupun mengetahuinya bahwa aku terkena kanker untuk kedua kalinya.
BAB 7 : Tuhan, Bolehkah Rambutku Tetap Ada?
Ketika disekolah mimisan itu keluar lagi dn ketika aku di UKS ayah menghampiriku dan langsung membawaku pulang kerumah. Keesokan harinya ketika ayah meminta proses Radioterapi pihak rumah sakit menolak kami mentah-mentah. Auah terus melakukan beberapa hal untuk bisa menjalankan proses Radioterapi dan Kemoterapi. Akhirnya pihak rumah sakitpun mengizinkan aku untuk menjalankan Radioterapi dan Kemoterapi si rumah sakit itu. Besok adalah kemoterapi pertama aku yang dilakukan dan malam harinya Andi datang tetapi aku tidak membukakan pintu kamarku untuk andi, karena takut andi tidak sanggup melihatku yang seperti dulu lagi. Hari itu pun tiba kemoterapi itu dilakukan selama dua jam, ketika ku bangun mulutku kaku, tanganku sulit digerakkan, dan tubuhku pun menggigil. Setelah sepuluh hari di rumah sakit aku pulang ke rumah tetapi ayah kecewa karena hasilnya tidak memuaskan. Akhirnya kemoterapi itu diberhentikan karena aku koma selama tiga hari. Setelah aku bangun Kemoterapi itu dilanjutkan lagi dan dengan akhirnya Prof.Mukhlis menyerah karena tidak bisa melenyapkan kanker itu lagi.
BAB 8 : Tuhan Biarkan Cinta Itu Terpendam Dalam Hatiku …
Meskipun Prof.Mukhlis sudak menyerah sama penyakitku. Tetapi ayah masih terus mencari  pengobatan terbaik untukku. Akhirnya kami memutuskan untuk menjalankan pengobatan di Singapura. Sebelum aku pergi keSingapura aku bilang ke Andi bahwa aku ingin sekarang kita
berteman saja.Sahabat-sahabatku memberikan aku beberapa kenangan untukku selama di Singapura. Setiba di Singapura kami langsung menuju Rumah Sakit Elisabeth  dan disana kami bertemu dengan Prof.Peng yang akan mencoba mengobati penyakitku ini. Tapi ternyata Prof.Peng hanya bisa mengobatinya dengan cara operasi kecil seperti di Jakarta.
BAB 9 : Tuhan Adakah Pilihan Lain Dalam Hidupku
Setelah sarapan pagi aku menanyakan pada ayah apa keputusan dari Prof.Peng. Dan ayah menjelaskan semuanya dan ayah meminta untuk kita kembali lagi ke Jakarta. Karena percuma kita disini keputusannya sama saja seperti di Jakarta yaitu operasi. Meskipun aku merelakan aku dioperasi tapi ayah tidak merelakanku untuk mengikutin operai itu karena akhir dari operasi itu bisa membuat wajahku jadi cacat. Setelah kami sampai di Jakarta kami disambut oleh sahabat-sahabatku dan semua keluargaku. Dan aku menginginkan kembali untuk sekolah karena kanker bukanlah penghambatku untuk belajar. Bulan suci Ramadhan telah tiba, dan ayah ingin pergi ke Bandung dan aku maksa untuk ikut tapi ayah tidak mengizinkanku karena takut fisikku menurun lagi. Akhirnya pun ayah mengizinkan aku untuk ikut keBandung bersama sahabat sahabatku. Sobat itu adalah pengalaman ku terindah.
BAB 10 : Tuhan, Izinkan Tanganku Dapat Menulis untuk
Terakhir Kalinya
Kini wajahku telah membengkak kembali dan terus membesar. Sekarang kanker itu sudah menyerang ke otakku, terkadang tanganku tidak lagi menurut padaku. Ayah meminta kepada pihak sekolah untuk memberikan keringanan ujian padaku, pihak sekolah sedikit ragu akan hal ini. Tapi aku menolaknya. Ujian telah tiba, ayah melarangku untuk ikut, tapi aku tetap memaksanya, dan akhirnya pun ayah mengizinkan. Ketikaku mau pergi sekolah aku merasa kakiku mati rasa, sehingga aku merangkak untuk keluar kamar. Ujian pertama selesai, ketika aku pulang sekolah Kak Chika bilang ayah dirawat karena lambungnya kumat lagi. Keesokan harinya sewaktu ujian, mimisan itu keluar lagi dan tanganku sulit digerakkan. Suatu malam, darah itu terus keluar dan tubuhku juga menggigil dan merontak-rontak kesakita. Aku mulai
panik aku memanggil ayah tapi suaraku terlalu kecil sehingga ayah tidak dengar.Dan  malam itu juga ayah membawaku ke RS Ciptomangunkusumo, ketika sudah sampai aku disuruh untuk dirawat inap, dan ayahpun menurutinya. Keesokan harinya adalah pembagian hasil ujian, ternyata hasil ujianku bagus dan mendapat peringkat 3. Setelah sampai rumah ayah menceritakan itu semua ke aku. Semua orang bilang selamat padaku dan salah satu orang yang mengucapkannya adalah Ibu yang datang menjengukku.
BAB 11 : Tuhan, Bolehkah Aku Kembali Walau Cuman Sesaat?
 Sampai sekarang keadaanku menjadi lebih buruk dan tidak seperti biasanya. Kanker itu sudah menyebar kemana-mana bahkan membuat tubuhku telah lumpuh sebagian. Saat operasi kemarin, dokter menyuntikkan obat-obat keras yang membuat tubuhku meronta-ronta kesakitan.Dokter mengatakan pada ayah bahwa waktuku sudah tidak lama lagi. Usaha terakhir ayah sudah sia-sia, kanker it uterus menyebar kemana-mana. Ayah hanya menangis dan frutasi dan menurutin semua permintaanku. Saat aku koma, aku bermimpi merasa bahagia sedang berjalan di Korea. Ketikaku sedang berjalan-jalan semua orang tersenyum padaku. Aku melihat rumah yang dihiasi bunga melati, ingin rasanya aku masuk kesana, tapi pintu pagar itu sangat tinggi sekali. Setelah beberapa saat, seorang wanita keluar dengan pakaian serba puti. Wanita itu cantik sekali dan membawa bunga melati di keranjang, dan menyerahkannya padaku. Dan aku memberikan sebuah surat pada wanita itu, dan wanita itu boleh baca kalau aku sudah tidak kembali lagi. Ketika aku pergi, ia tampak membaca suratku, akupun berlari menuju jalan yan tak asing dan terus berlari hingga melati yang kupegang terjatuh satu persatu. Dan aku meminta maaf pada semua orang disekitarku.
Tepat tanggal 25 Desember 2006, keke menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 11 malam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar